+ Iklan Baris Online     + Lowongan Kerja

Menelusuri Pilar-pilar Pencakar Langit di Hongkong
Rabu, 4 November 2009 | 00:17 WITA

PETUGAS imigrasi di Hongkong International Airport (dahulu bernama Bandara Internasional Chek Lap Kok), memasang wajah yang kaku terhadap saya. Usai memeriksa paspor dan persyaratan dokumen keimigrasian lainnya, paspor dikembalikan kepada saya dengan cara melemparnya begitu saja.

     Saya kaget bukan kepalang atas sikap seperti itu. Tadinya saya pikir sikap "kasar" seperti itu hanya ditujukan kepada saya. Tapi tidak, ternyata kepada istri saya dan para pendatang lain yang antre panjang, lelaki-perempuan, pun diperlaukan yang sama, paspor itu dikembalikan kepada pemiliknya dengan cara dilempar begitu saja.
     Masuk ke Hongkong dari Narita Jepang, lewat bandara berkelas internasional tersebut, dan terkaget-kaget serta mengeluh telah mendapat perlakuan "kasar" seperti itu, cukup beralasan. Karena, perbedaannya seperti langit dan bumi. Di Jepang, meski tetap bersikap kaku saat memeriksa paspor, tapi petugas imigrasinya tetap menjaga keramah-tamahan, rasa hormat, dan sikap melayani. Di Tokyo, paspor saya dikembalikan dengan santun, tidak dilempar begitu saja seperti di Hongkong.
     Saya pikir sikap tidak ramah tersebut hanya terjadi dan dilakukan oleh petugas imigrasi Bandara Internasional Hongkong saja. Ternyata tidak. Sikap kurang melayani dan kurang hormat juga saya alami di tempat-tempat lain. Masih di bandara itu, saya bahkan sulit sekali menemukan orang yang mau memberi petunjuk untuk tempat-tempat dan lokasi yang hendak saya tuju berikutnya. Mereka yang ditanya terkesan menyambut saya dengan cuek, bahkan ada yang memberi jawaban yang justru menyesatkan.
     Namun, pada akhirnya saya menemukan jalan keluar, setelah satu hari menikmati Hongkong dengan pilar-pilar pencakar langitnya. Ternyata, bila kita ingin menanyakan sesuatu, carilah warga Hongkong pria-wanita yang berpakian keren dengan jas dan dasi, entah eksekutif, atau yang terdidik. Hanya dari merekalah saya menemukan keramahtamahan warga Hongkong yang bersikap hormat, melayani, hingga memberi petunjuk kepada warga asing dengan detail.
     Hongkong secara umum harus diakui bersih. Tidak banyak sampah berserakan di jalanan. tapi bila dibandingkan dengan Tokyo, ia masih satu level di bawahnya dari sisi kebersihan. Di Hongkong kita masih bisa menemukan orang meludah di jalan, bahkan di sana-sini  bila kita tidak hati-hati, sepatu kita bisa menginjak buangan dahak orang.
     Bagi para perokok, Hongkong adalah siksaan. Di mana-mana tertempel larangan merokok dengan tulisan di bawahnya ancaman denda 5000 dolar Hongkong atau  sekitar Rp 6 juta. Sayangnya, pemerintah Hongkong kurang memberi ruang bagi para perokok, smoking room sangat susah dicari di negeri ini. Beda dengan Jepang, meski ada larangan merokok tapi banyak sekali terdapat ruangan yang disediakan bagi para perokok. Hampir semua restoran bahkan menyediakan dua ruangan, untuk yang tidak merokok dan yang merokok.
     Hongkong adalah kota (negara) dengan julukan kota 'terjangkung' di dunia. Di negara bekas jajahan Ingris ini terdapat lebih dari 7.500 gedung pencakar langit. Dengan jumlah tersebut maka Hongkong mencatatkan dirinya sebagai negara yang memiliki gedung pencakar langit terbanyak di dunia, mengalahkan kota New York, Amerika Serikat.
     Itulah sebabnya, jauh hari sebelum saya mengunjungi Hongkong, keinginan saya cuma satu, yaitu bisa melihat langsung Nina Tower. Gedung pencakar langit dengan dua menara ini berada di kawasan Tsuen Wan, di kawasan semenanjung Kowloon, di jalanYeung Road 8. Tidak sulit untuk mencapai Nina Tower. Saya berhasil sampai di situ dengan naik kereta api cepat (MRT) dari Stasiun Causeway Bay, di downtown, yang ditempuh dalam waktu setengah jam.
     Begitu keluar dari stasiun kereta api, mata saya langsung bisa menatap Nina Tower. Memang, di daerah itu banyak sekali berjejer gedung-gedung pancakar langit lainnya. Namun Nina Tower yang dibangun satu tahun setelah Inggris mengembalikan Hongkong ke China tahun 1999 itu, tetap terlihat saja terlihat paling kokoh mencolok. Sebab, Nina Tower merupakan gedung pencakar langit tertinggi kelima di Hongkong.
     Nina Tower menarik buat saya karena kisah tragis yang menimpa pemiliknya, yakni Nina Wang. Wanita yang dicirikan dengan rambut berkepang dua ini telah meninggal dunia pada April 2007. Tragis, karena janda ini mati dengan meninggalkan kekayaan yang besar sekali, tapi ia tidak punya anak yang berhak mewarisi seluruh hartanya.
     Berdasarkan laporan yang dikeluarkan Majalah Forbes, kekayaan Nina Wang mencapai 4.2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4,2 triliun. Beberapa pihak di Hongkong malah memperkirakan warisan tak bertuan milik Nina Wang bisa mencapai 12 miliar dolar AS atau sekitar Rp 12 triliun. Harta karun milik taipan Nina Wang ini menjadi buah bibir warga Hngkong hingga kini. Pengadilan Hongkong masih dalam upaya memutuskan status warisan Nina tersebut.
     Nina Tower sendiri terdiri dari dua menara kembar yang melambangkan suami-istri; Nina dan Teddy Wang (meninggal lebih dulu). Menara pertama adalah simbol dari Teddy, tingginya 295 meter dengan 80 lantai. Menara kedua adalah simbol Nina, memiliki 42 lantai. Menara satu dan dua dihubungkan dengan jembatan, memiliki 60 lift. Kedua menara yang dikelola Chinachem Group ini menjadi salah satu properti bisnis dengan lantai terluas di Hongkong. (*)

Oleh: Uki M Kurdi
Pemimpin Redaksi Tribun Lampung

Tribun Timur, Selalu yang Pertama

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun
Timur, Makassar (edisi cetak) : 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555)

(Syamsul)

Dibaca 121 Kali
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved