Minggu, 29 November 2009 | 01:07 WITA
PRESTASI terbaik selalu dimulai dari sebuah mimpi. Dan mimpi yang enantiasa menghiasi perempuan kelahiran Trelawny, sebuah desa terpencil di Jamaika, 26 Februari 1985 ini akhirnya menjadi kenyataan.
Bahkan, hebatnya, ia menggapai prestasi yang jauh melebihi mimpi terindahnya: menjadi atlet terbaik putri 2009, setelah mendapuk prestasi serupa pada 2006. Sanya Richards, yang pindah jadiwarga negara Amerika Serikat pada usia 17 tahun, memang tak tertandingi musim ini. Ia memborong tiga medali emas di nomor dan kejuaraan bergengsi, yakni 4x400 meter di Olimpiade Beijing, 4x400 meter di Kejuaraan Dunia Berlin, serta 400 meter pada kejuaraan dunia di Berlin.
Semua itu masih ditambah dengan medali perunggu di nomor perorangan 400 meter Olimpiade Beijing. Hebatnya, musim ini juga masih ditambah dengan pencapaian lain, yakni raihan tiga gelar juara Golden League. Di Paris, ia mencatatkan waktu49,34 detik, 48,94 detik di Zurich dan terakhir mencatatkan 48,83 detik di Brussels, Belgia. Statistik lainnya pun sangat mengagumkan, catat ini; ia mampu merengkuh delapan kali kesempatan sepanjang tahun untuk berlari di bawah 50 detik pada nomor 400 meter.
Semua itu membuatnya mengukir total 40 kali mengemas waktu di bawah 50 detik. Tak heran, di akhir musim kompetisi atletik internasional 2009, Sanya Richards, mendapat sematan bintang, elar atlet terbaik dunia pun resmi disandangnya pekan lalu, bersama sprinter Jamaika, Usain Bolt.
“Saya selalu ingin menjadi yang terbaik, bertemu dan bertarung di lintasan adalah darah dagingku. Sayaharus bertanggung jawab kala bertanding karena membawa negara, bukan individu belaka. Selanjutnya, saya ingin menjadi duta besar bagi dunia olahraga, khususnya atletik nomor menengah,” tutur Sanya Richards, di situs pribadinya.
Kualitas Sanya Richards memang sudah terasah sejak junior. Pada usia12 tahun misalnya, saat baru pindah ke AS, ia langsung menjadi yang terbaik di sekolahnya, SMA St Thomas Aquinas. Tahun 2002 menjadi awal dirinya bergerak di level nasional usai dinobatkan sebagai atlet putri terbaik AS. Prestasi mengilap pertama di nomor senior direngkuhnya pada 2005, kala meraih medali perak di nomor 400 meter.
Pada 2006, bersama Jeremy Wariner (400 m) dan Asafa Powell (100 m), dia meraih enam gelar juara Golden League dalam enam gelaran. Ia meraih hadiah uang 250 ribu dolar AS danmemecahkan rekor Valerie Brisco, dengan catatan waktu 48,7 detik, lebih tajam dari sebelumnya 48,83 detik. Sejak saat itulah, kariernya terusmenanjak seiring dengan kekuatan ototnya.
Sayang, ia harus sesekali terjerembab. 2006 menjadi karier tertinggi setelah ia didapuk menjadi atlet putri terbaik. Setelah itu, prestasinya merosot, dan orang pun berspekulasi kemungkinan dirinya mundur. Hebatnya, terbukti kemudian ia bisa bangkit lagi.
“Saya masih muda dan panjang sekali perjalanan menjadi seorang pelari. Pelbagai kegagalan patut disyukuri karena saya bisa mengetahui sisi kelemahan, tak asyik rasanya selalu berada di puncak, sesekali kita harus jadi penantang yang luar biasa,” ucap Sanya.
Ia mengaku, perjuangan kerasnya selama di dunia atletik adalah wujud dari prinsip yang dipegangnya teguh. Bagi Sanya, perjuangannya di atletik adalah cerminan tidak ingin menyianyiakan kesempatan setelah bekerja keras memperoleh hak kewarganegaraan negeri Paman Sam.
Baginya, perjuangan keras selalu menghasilkan sesuatu yang sangat berarti, meski itu belum tentu berujung pada kemenangan atau raihan kebesaran nama.”Saya memang terbaik di dunia, tapi itu belum membuatku merasa puas, masih banyak yang harus kulakukan di dunia atletik ini, jadi bagiku tak ada hari tanpa kerja keras yang luar biasa,” cetus Sanya.
Kini satu obsesi yang ingin diraih Sanya tak lain medali emas di nomor perorangan pada Olimpiade London 2012. “Saya ingin tercatat sebagai eorang legendaris, bukan bermaksud pongah, tapi itu cukup untuk menjadi bekal saat saya menjadi orang tua kelak,” tegas Sanya. (Persda Network/bud)
Tribun Timur, Selalu yang Pertama
Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com
Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun
Timur, Makassar (edisi cetak) : 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555)
(
Muh Izzat Nuhung)